Minggu, 25 Desember 2011

Ciptakan Kebahagiaan "Bagian Dua"

Bel istirahat baru saja berdering beberapa detik yang lalu.
“ Kantin yuk... ” ajak Rasya.

“ Males ah, udah nggak nafsu makan. Gara-gara ulangan dadakan Matematika tadi. Udah semalem kagak belajar. Tau deh, gue dapet berapa ” jawab Bela ketus.

“ Gitu aja loe pikirin. Santai ajalah... ” sahut Rasya sambil cengar-cengir.

“ Loe sih enak. Udah pinter dari sononya. Lha gue.? Belajar nggak belajar tetep ajaaa hasilnya ” sanggah Bela.

“ Udah deh nggak usah mulai lagi, ayoookkk ke kantin sekarang...!!! ” paksa Rasya dan menarik lengan Bela.

Dengan terpaksa Belapun menuruti kemauan dari sahabatnya itu. Mereka berdua sudah menjalin persahabatan dua tahun yang lalu. Bisa dibilang mereka itu bagai bumi dan langit. Seratus delapan puluh derajat berbanding terbalik. Yang satu orangnya super cuek abis, tapi yang satunya lagi perduli banget sama yang namanya penampilan. Meskipun begitu, mereka berdua saling menutupi dan melengkapi satu sama lain. Karna memang begitulah persahabatan. Selalu ada kekurangan dan kelebihan untuk menjadikan sebuah persahabatan lebih bermakna.

“ Mbak, bakso dua sama es teh dua ” pesan Bela pada penjual Bakso.

Bakso di sini memang terkenal enak. Makanya yang antri bejibun. Nggak Bela namanya kalo nggak bisa dapet tempat antri paling depan. Hahaha...

“ Berrreeessss... ” jawab penjual bakso mantap.

“ Nggak pake lama...!!! ” seru Bela sambil mengangkat kedua alisnya dan disambut dua jempol dari mbak penjual bakso.

Bela berjalan santai meninggalkan antrian panjang itu. Sampai-sampai dia tidak memperhatikan seorang cowok yang melintas di depannya.
Pyarr...pyarr...pyarr...
Nampan yang berisi semangkok bakso dan segelas es teh terlepas dari tangan cowok itu.

“ Ooopss...Sorry sorry sorry... ” kata Bela panik dan memungut pecahan-pecahan itu.

“ Udah udah, biar gue aja ”
seru cowok berkaca mata itu.

“ Sorry yah gue nggak sengaja ” jawab Bela dan terus memunguti pecahan kaca tanpa memperdulikan ucapan cowok yang berada di depannya.
Dan tiba-tiba saja...

“ Addduuuuuhhhh... ” teriak Bela.

Jari telunjuknya terkena pecahan kaca. Darah segar mengalir dengan cepatnya. Cowok bertampang manis itu tak tinggal diam. Dia segera menarik tangan Bela dan menghisap darah yang bercucuran dari telunjuknya. Seketika Bela merasakan debaran jantung yang berbeda.

“ Perasaan seperti apakah ini ? ”
gumam Bela dalam hati.

“ Udah gue bilang kan, nggak usah. Gini nih jadinya ”
kata cowok itu lembut.

Dia mengambil plester dari sakunya dan segera menempelkannya ke jari telunjuk Bela. Tapi, yang diajak bicara malah bengong. Rupanya Bela terpesona menatap cowok yang berada di depannya.

“ OMG...!!! Loe kenapa.? ” tanya Rasya setengah menjerit setelah mendapati sahabatnya tengah duduk di lantai.

“ Hehehe. Gue nggak pa-pa kog. Luka kecil doang ”
jawab Bela cengengesan.

“ Makasih yahh udah nolongin sahabat gue ” kata Rasya pada cowok berambut cepak itu.

“ It’s okay... ” jawabnya enteng.

“ Gue cabut dulu ” lanjutnya dan berlalu.

Baru beberapa langkah cowok itu pergi, tiba-tiba saja Bela memanggilnya.

“ Tungguuuu... ” teriaknya.

“ Makasih yah ”
sambungnya basa-basi dan hanya disambut senyuman.

“ BAGAS RADITYA PUTRA ”
Bela membaca nama yang tertera di seragam cowok itu.

“ Yes, gue tau nama loe ”
sorak Bela dalam hati.

“ Eh, loe kenapa sih ? Senyum-senyum sendiri. Aneh deh ”
celetuk Rasya yang ganjal melihat tingkah laku sahabatnya.

“ Hah...Nggak kog. Loe kali yang aneh. Hehehe... ” sanggah Bela.

“ Udah ah, balik yuk... ” ajak Bela dengan nada setengah memaksa.

“ Loh...kita kan belum makan ”
tolak Rasya.

“ Ntar aja istirahat kedua. Kita udah telah masuk kelas nih ” paksa Bela dan menarik tangan sahabatnya itu.

♥º°˚˚♥ ♥º°˚˚♥ ♥º°˚˚♥

Tidak ada komentar: