Rabu, 12 November 2008

Precious Experience


Rabu tanggal 29 Oktober tahun 2008, bertambahlah warna dalam hidupku. Siang itu sepulang sekolah kepalaku serasa berbintang-bintang alias pusing. Sesampainya di rumah ibuku dan bapakku sudah datang dan aku melihat mereka sedang beristirahat, maka aku putuskan untuk tidak mengganggu mereka. Kulempar tasku ke meja belajar tanpa basa-basi aku langsung tidur di kamar tidurku tanpa ganti baju dan makan terlebih dahulu. Setelah beberapa menit kemudian ibuku memanggilku, beliau mengingatkanku untuk sholat dhuhur. Kemudian aku beranjak dari tempat tidur dan mengambil air wudhu dan sholat. Setelah sholat aku melanjutkan tidurku yang tertunda tadi. Ibuku bertanya, “Sudah makan apa belum?”. Dan aku menjawab, “Belum. Nanti saja”. “Kalo sudah pulang tuh langsung makan!” tegur ibuku. Namun, aku tidak menggubris teguran ibuku karena kepalaku sudah banyak bintangnya.
Jam 3 sore kemudian bapakku bertanya kepada ibuku, “Lha Gita sudah pulang apa belum?”. “Sudah. Tapi tidak mau makan” jawab ibuku. “Ya sudah biarkan mungkin dia capek” kata ayahku membelaku. Aku masih mendengar percakapan mereka karena aku tidak bisa tidur. Jarum jam sudah menunjukkan pukul setengah empat sore, ayahku menghampiriku. “Nduk, cepetan ndang makan?” ucap ayahku sambil memegang kening kepalaku. “Inggih” jawabku pelan. Aku ganti baju kemudian makan, tapi makananku terasa pahit semua. “Bapak kepalaku pusing” kataku kepada bapakku. “Makanya makan yang banyak” tutur beliau. Setelah makan aku membersihkan rumah karena itu merupakan tugasku, dan setelah itu aku mandi. Selesai mandi aku langsung tidur lagi. Ibu dan bapakku bingung dengan tingkah lakuku. Beliau masuk ke kamarku dan memegang keningku. “Badannya panas sekali” kata bapakku. “Nduk, kamu kenapa?” tanya ibuku. “Kepalaku pusing” jawabku dengan suara yang sangat pelan. “Ya udah. Pak, ayo kita periksakan ke dokter” usul ibuku. “Iya” jawab bapakku. Kemudian aku dan keluargaku menuju ke dokter Sugianto, beliau adalah langgananku sejak kecil. Setelah sampai di sana aku menunggu sekitar 15 menit, ternyata beliau tidak ada. Akhirnya kami memutuskan untuk pulang dan beralih ke dokter dekat rumahku. Kami sampai juga di rumah dokter itu. Setelah diperiksa aku diberi beberapa obat. Sesampainya di rumah aku langsung makan dan minum obat. Aku merasa agak mendingan, aku berencana besok akan masuk sekolah karena besok masih UTS. Namun, setelah masuk ke kamar kepalaku mendadak pusing lagi maka aku putuskan untuk segera tidur. Dalam tidurku aku tidak bisa tidur. Bapakku mengompres kepalaku agar panasnya turun. Beliau mengompres mulai jam 21.00 wib, 23.00, dan selanjutnya aku tidak tau karena aku sudah terlelap.
Keesokan harinya keadaanku makin parah. Kedua orang tuaku membawa aku ke dokter langgananku dan akupun terpaksa tidak masuk sekolah. Setelah sampai di tempat praktek dokter, lagi-lagi dokternya tidak ada dan kedua orang tuaku mengajak aku untuk beristirahat di rumah. Malam harinya rasanya aku sudah tidak kuat lagi untuk berbuat sesuatu. Aku tidak bisa tidur, kepalaku yang pusing dan badanku terasa tidak enak. Panas badanku semakin naik dan membuat kedua orang tuaku bingung. Semalaman kedua orang tuaku menemaniku. Bapak terus mengompres kepalaku berharap panas di badanku segera turun. Ibuku juga semakin bingun karena di seluruh tubuhku keluar bintik-bintik merah. Beliau khawatir kalau aku terserang demam berdarah. Di sini, aku menahan air mata, air mata yang sudah di pelupuk mata. Betapa besar perhatian mereka yang diberikan kepadaku, mereka senantiasa menemaniku. Aku merasa bersalah kepada mereka, aku sering mengabaikan perintah beliau dan nasehat beliau. Namun, sekarang aku mengerti begitu besar kasih sayang yang mereka berikan kepadaku tanpa mereka mengharap imbalan apapun dariku.
Pagi harinya aku dibawa ke dokter Obet. Setelah menunggu giliran beberapa menit, aku diperiksa. Beliau mengatakan bahwa aku harus opname di rumah sakit karena aku terkena infeksi virus. Akhirnya, aku dibawa ke rumah sakit. Setiba di rumah sakit umum, aku segera di bawa ke ruang UGD untuk dipasang infuse. Aku jadi teringat masa laluku, dulu waktu aku kelas tiga SD aku pernah ditabrak sama sepeda motor dan ibuku membawaku ke rumah sakit. Setelah sampai di rumah sakit aku tidak mau di infuse karena menurutku di infuse itu sakit. Aku tertawa sendiri mengingat hal itu. Setelah infuse dipasang di tangan kiriku aku segera dibawa ke ruang Melati nomor lima yang telah dipesan oleh kedua orang tuaku. Aku merasa aneh tidur di atas kasur yang selama ini tidak mau aku tiduri. Aku masuk rumah sakit sekitar pukul 08.30 wib. Beberapa menit kemudian seorang suster memeriksa tensiku dan mengambil darahku untuk di tes di laboratorium. Aku menahan rasa sakit dan tidak berani untuk melihat jarum suntik itu. Tepat pukul 11.30 dengan dokter yang sama yakni dokter Obet aku diperiksa lagi. Beliau mengatakan kalau aku harus dikompres. Karena kami mengira tidak sampai opname, maka kami tidak membawa perlengkapan yang cukup. Ibuku membelikan dua lembar handuk kecil untuk mengompres aku. Karena hari ini hari jum’at maka bapakku memutuskan untuk sholat jum’at di rumah serta mengambil baju dan perlengkapan yang lain bersama ibuku. Sedangkan yang menunggui aku adalah tanteku yang kebetulan bekerja di rumah sakit.
Sore harinya aku pindah kamar di ruang Melati nomor 8. Malam harinya aku bisa tidur lumayan nyenyak. Kedua orang tuaku tidur di bawah yang beralaskan karpet. Selama empat hari aku harus dirawat di rumah sakit. Beberapa tetangga dan teman-temanku menjengukku. Aku merasa betapa besar kesalah yang kuperbuat selama ini kepada kedua orang tuaku. Makan aku suapi, mandi di mandikan, dan sampai mau ke toilet di anter bahkan ditunggui. Dari sini banyak sekali hikmah yang aku dapatkan. Aku hanya ingin memberikan yang terbaik untuk kedua orang tuaku, karena beliau telah membanting tulang setiap hari untuk membiayai sekolahku dan kakakku, serta mereka tidak meminta imbalan apapun. Mereka hanya ingin melihat kedua putrinya berhasil dalam menjalani hidup ini. Aku berjanji untuk selalu berusaha mendapatkan yang terbaik buat diriku agar bisa membuat kedua orang tuaku bahagia dan bangga padaku. Semoga yang sudah membaca tulisan ini bisa juga mengambil hikmah dari pengalamanku dan aku hanya berpesan “Jangan kecewakan kedua orang tuamu, berikanlah yang terbaik untuk mereka karena mereka senantiasa memberikan yang terbaik untuk kamu”.

Tidak ada komentar: